Salah seorang teman Anya di dunia kepenulisan memberikan keluhan, bahwa dia merasa kesulitan dalam hal memberikan suatu ciri khas tersendiri dalam dialog karakter yang dituturkan dalam cerita. Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita menemukan cara bicara yanng unik satu sama lain. Setiap orang pasti memiliki cara bicara yang berbeda, dan hal itu dapat kita jadikan patokan dalam penulisan dialog karakter dalam cerita.
Berikut ini adalah elemen dari cara bicara seseorang yang dapat kita jadikan patokan dalam penulisan dialog:
1.) Aksen/Dialek
Ini adalah salah satu elemen yang paling menonjol dalam cara bicara seseorang. Aksen bicara dapat menunjukkan bagaimana kondisi geografis tempat kelahiran si karakter serta pembawaan karakter. Biasanya, di tempat-tempat yang beriklim dingin atau wilayah perkotaan orang memiliki aksen bicara yang datar atau lembut. Sementara itu di daerah kota kecil atau pedesaan yang terletak di pegunungan dan pantai, aksen bicara mereka cenderung kasar.
Contoh:
"Jose ke mane dah? Udeh kite tungguin, masih aje belom keliatan batang idungnye!" ucap Putra pada kedua temannya.
"Walah, saye tak tau jua. Cuba kau telepon saje." Fathir yang masih mengaduk kopi pahit yang dipesannya mulai merespon kata-kata Putra.
"Emangnye ente kagak bawa hape? Aye kagak ade nomor die." ucap Putra.
Pria berkulit coklat itu mengeluarkan telepon genggam dari kantong kemeja putih yang dipakainya, kemudian menekan beberapa tombol di atas keypad telepon genggamnya. "Saye tak ade pulse. Fe, cuba pakai cellphone kau saje."
Gadis berambut hitam panjang berkacamata itu mengeluarkan iPhone-nya dari dalam tas, kemudian mencari nomor telepon yang dimaksud. Fe menempelkan iPhone-nya di telinga sambil menunggu selama beberapa menit. Satu menit, dua menit, tiga menit.
"Hello?" sapa Fe pada seseorang di seberang telepon. Hening, tidak ada jawaban.
"Gimane? Diangkat ape kagak?"
"No answer, siah! Number-nya tak aktif, lah!" gerutu Fe sambil meletakkan telepon genggam tersebut di atas meja yang tadi tiga orang itu pesan.
Kira-kira seperti itulah, kalian udah bisa tebak, kan Putra, Fathir sama Fe itu orang mana aja beserta sifatnya? Hehehe...kalau ini terlalu sulit kamu juga bisa menyelipkan kata-kata dalam bahasa asing atau daerah ke dalam dialog karakter. Asalkan jangan kebanyakan aja, nanti pembaca malah bingung.
Ini contohnya (Anya ambil dari fic-nya FrauPhan yang berjudul Verano a Dinamarca chapter kedua. Diambil dengan seizin yang punya, sebenernya ini cuma dialog lewat chat di WhatsApp sih) :
Carl Sorensen: Maafkan sikapku tadi, aku hanya ingin memperbaiki hubungan kita. Aku tidak bermaksud membuatmu marah. Beri aku sedikit waktu untuk memperbaiki ini semua. Dua jam lagi, aku akan ke apartemenmu untuk melihat keadaanmu. Sekaligus menginap di tempatmu. Hvor du kan aldrig forsta min kaerlighed.
Adrianne menghapus air matanya dan tersenyum miris.Ia tidak membalas pesan itu selama beberapa saat. Ya, itulah yang dia suka dari Carl.
Adrianne Linnea: Datanglah kapanpun yang kau mau, min karlek.
Wajahnya memerah ketika ia menuliskan panggilan sayang tersebut. Dan tidak berapa lama kemudian, pesan pun dibalas oleh Carl.
Carl Sorensen: Gaet hvem! Hvordan kan det sa vaere at jeg er (med) dinne dromme.
Adrianne menggerutu kesal, setiap pria itu ingin menggodanya pasti dia menggunakan bahasa Denmark.
Adrianne Linnea: Fan ocksa, Carl. Lat mig ga. Du ar tokig.
"Dasar pria bodoh," gerutu Adrianne dan membanting iPhone-nya tapi beberapa saat kemudian hatinya berbunga-bunga.
2. Penggunaan Kata Ganti
Salah seorang teman kuliah Anya, Anggi Ade Primawan pernah menuliskan artikel yang membahas mengenai ini. Menurut Anggi dalam artikelnya yang berjudul Aku-Kamu vs Gue-Lu, penggunaan kata ganti yang berbeda juga akan menimbulkan kesan yang berbeda bagi penuturnya. Lagi-lagi masih berhubungan dengan ini, ada yang pernah dengar istilah illeisme?
Berakar dari kata "ille" dalam bahasa Prancis yang artinya "dia". Jadi, illeisme itu merupakan keadaan di mana penutur menggunakan sudut pandang orang ketiga untuk menyebut dirinya sendiri. Seperti yang Anya lakukan di sini, ahaha...
Ini contoh penggabungan antara aku-kamu, gue-lo dan illeisme:
"Lo mau ngeracunin gue, ya Dieter? Kopinya nggak enak, tahu!" gerutu Cornelis sambil menghentakkan kakinya.
"Aku sangat yakin, kopinya sudah kubuat dengan takaran antara kopi, gula dan susu yang pas. Tidak ada tambahan bahan apapun. Kamu tidak usah protes." sergah Dieter yang duduk di depan pria setinggi 190 sentimeter itu.
Tak lama kemudian, seorang remaja putra berambut coklat dengan tinggi sekitar 172 sentimeter masuk ke dalam ruangan tersebut dan membuka pintu perlahan. Rambutnya berwarna kecokelatan, matanya hijau, dan tangannya tengah membawa tas penuh berisi belanjaan.
"Selamat sore semuanya! Winner sudah pulang!" sapa remaja putra berwajah manis itu riang.
3.) Pemilihan Kata
Inilah yang sesungguhnya paling bisa membedakan dialog antar karakter. Pemilihan kata seseorang mencerminkan beberapa hal berikut ini:
Usia
Semakin dewasa atau tua usia seseorang, jumlah perbendaharaan kata dalam otaknya semakin besar. Karakter anak-anak di bawah dua belas tahun biasanya digambarkan sebagai sosok yang tidak mengerti kata-kata sulit, jadi bahasa yang digunakan masih nampak sangat polos. Sementara itu, karakter yang berusia lebih tua biasanya menggunakan kata-kata yang lebih sulit dicerna, bahkan menggunakan perumpamaan yang memberikan kesan bijak atau cerdas pada sifatnya.
Contoh (diambil dari fic-nya FrauPhan yang berjudul The Schmidt Show, chapter 3):
"Paman Betrand lagi apa?"Betrand Schmidt menghentikan kegiatannya membaca berkas-berkas dari organisasi internasional yang tidak jauh dari rumah Betrand. Anneliese, keponakannya yang dititipkan sementara memandangi berkas itu dengan tatapan penasaran.Anneliese mendekati Betrand, semakin penasaran ia. "Boleh saya lihat. Sepertinya menyenangkan.""Tidak menyenangkan seperti yang dibayangkan, sayang." jawab Betrand lembut. Anneliese membaca berkas itu dengan seksama. Ingin mencari pemecahan sengketa wilayah antar dua negara tersebut. "Kamu suka hal-hal yang berhubungan dengan hubungan internasional?"
Kelas Sosial/Posisi Hierarkis
Orang dari kelas sosial yang lebih tinggi pasti akan memiliki perbendaharaan kata yang lebih banyak, karena mereka lebih mudah mengakses pendidikan sampai ke tingkat yang lebih tinggi. Terlihat lebih jelas lagi apabila kelas sosial yang lebih tinggi dan lebih rendah berinteraksi, dibandingkan dengan yang masih dalam kelas yang setara. Hal yang sama juga terjadi pada posisi hierarki dalam suatu organisasi, misalkan jelas berbeda dialog antara salah satu staf personalia di kantor dengan direktur dan dengan office boy.
Contoh:
"Tolong buatkan saya kopi pahit. Dalam waktu tiga menit, kopi harus sudah siap." perintah wanita muda berambut coklat terang sebahu itu sambil memainkan rambutnya yang tergerai begitu saja. Wanita muda itu nampak anggun dengan gaun hitam panjang tanpa lengan dan sepatu hak tinggi berwarna senada.
"Maafkan saya, Nona Muda. Tiga menit, yang benar saja? Apakah itu tidak terlalu singkat?" protes Antti sambil mengangkat siku tangan kirinya, kemudian menyingsingkan lengan jas yang dipakainya sedikit untuk menatap arloji.
"Ini perintah untuk pelayan pribadiku. Jangan memberontak, atau kau akan tahu apa akibatnya." tegas Nadine sambil menggebrak meja. Antti hanya dapat pasrah kalau majikannya sudah marah begini dan menuruti perintahnya. Seaneh dan setidak masuk akal apapun perintah sang Nona Muda, harus dia turuti. Toh, posisi Antti di sini sekarang hanya sebagai pesuruh.
"B-baiklah, Nona Muda. Akan segera saya laksanakan." ucap pria itu yang kemudian meletakkan tangannya di dada dan membungkukkan badan di depan majikannya. Pria bertubuh tinggi itu menghilang dengan cepat memasuki dapur.
Spesialisasi/Bidang Ilmu
Bicara soal pendidikan, pasti semua orang memiliki keahlian atau spesialisasi dalam satu atau dua bidang tertentu. Nah, setiap bidang ilmu pasti memiliki terminologi unik yang membedakan dengan bidang ilmu yang lain serta memberikan ciri khas tersendiri. Anya mau coba kasih contoh yang ilmu sosial, soalnya Anya juga bukan kuliah jurusan IPA. Gak apa-apa, kan?
Contoh:
"Selfie itu salah satu bukti kalau kapitalisme itu benar-benar dirasakan dalam kehidupan sehari-hari." ucap Kirsi sambil menutup buku yang dibacanya sejak tadi.
"Aku sama sekali tidak mengerti maksudmu, Kirsi Kantola. Kirsi nggak usah sok pinter, deh." ucap Marisa sambil menyendok kue yang dipesannya tadi. Sementara itu, Erika dan Sara yang duduk di depan mereka hanya dapat berpandangan satu sama lain.
"Begini, teman-teman sekalian. Coba bayangkan berapa uang yang akan didapatkan oleh para pemilik modal itu setiap kita mendownload aplikasi untuk mengambil gambar selfie. Kita akan menguntungkan mereka, kan? Dan kita yang mengambil selfie juga sebenarnya tidak mendapatkan untung dan rugi. Kemudian, apa namanya yang tongkat panjang itu?" tutur Kirsi lagi. Teman-temannya hanya bisa manggut-manggut.
"Monopod? Tongkat narsis?" timpal Sara. "Masak Kirsi nggak tahu?"
"Iya, pokoknya itulah. Kapitalis kan, ya? Belum tentu yang bikin tongkat narsis bisa ngambil selfie juga, kan?" lanjut Kirsi. Marisa hanya bisa cemberut dan mengerinyitkan dahi mendengar ucapan temannya.
"Kirsi ini mikirnya kejauhan. Menurut aku, itu sah-sah saja sebagai salah satu bentuk ekspresi diri secara publik melalui media komunikasi elektronik. Selain itu, selfie juga bisa menghimbau masyarakat untuk melakukan sesuatu dalam beberapa kasus." sanggah Marisa yang tidak setuju dengan pendapat Kirsi.
"Aku setuju sama Marisa Frederiksen!" ujar Erika yang disambut senyuman sinis dari Marisa. "Iya, benar kata Marisa. Selfie juga bisa mempererat persahabatan antar negara dan meningkatkan kerjasama mereka dalam menangani suatu isu. Misalnya, penyakit AIDS atau isu global warming."
"Duh, Erika Jansson...kamu nggak ada bedanya sama Kirsi Kantola itu. Mikir, tuh down to earth aja. Gak usah kejauhan." protes Marisa.
"Namanya juga beyond common sense." kikit Kirsi yang berakhir dengan jitakan dari Marisa.
Sara yang sejak tadi menyimak pembicaraan teman-temannya dan tidak tahu harus bicara apa, memutuskan untuk angkat bicara. "Aku sama sekali tidak punya komentar soal masalah ini. Yang jelas kalau kamu mengambil selfie, berhati-hatilah. Banyak, lho modus kejahatan baru yang menggunakan tren itu."
Ketertarikan Terhadap Sesuatu
Pernah mendengar istilah fandom? Sama seperti bidang ilmu yang tadi Anya jelaskan tadi, setiap fandom juga memiliki terminologi-nya sendiri, yang membedakan dengan fandom-fandom lainnya. Seperti misalnya istilah Quidditch dalam fandom "Harry Potter" atau istilah Tardis dalam fandom "Doctor Who". Dalam contoh kali ini, Anya akan memberikan contoh di fandom anime secara umum.
Contoh (diambil dari fic The Schmidt Show chapter 9, karya FrauPhan):
"Eh, tau nggak anak kelas sebelah yang bernama Jeanne Betrand? Pettan banget orangnya." anak lainnya yang bernama Siegfried menimpali. "Mukanya mana nggak moe!"
"Kayak Schmidt, dong. Tinggi besar, muka nggak imut. Badannya nggak berbentuk pula!" ejek Wagner. "Han, sih moe banget. Tempat kita ceweknya jelek-jelek semua. Nggak kayak tokoh anime!"
4.) Gerakan Tubuh dan Mimik Wajah
Deskripsi mengenai gerakan tubuh dan mimik wajah seseorang saat berbicara juga berperan penting dalam pemberian ciri khas pada dialog karakter. Selain suara, bahasa tubuh dan ekspresi wajah juga mencerminkan bagaimana pembawaan orang tersebut. Orang yang memiliki pembawaan lincah, genit atau selalu gugup, biasanya lebih banyak menggunakan gerakan tubuh dibandingkan mereka yang pembawaannya lebih tenang. Ekspresi wajah juga mencerminkan bagaimana perasaan seseorang saat menuturkan sebuah perkataan pada yang lain.
Contoh 1 (diambil dari fic karya FrauPhan yang berjudul Der Schweiz Leidenschaft, chapter 1):
"Cuma sekali ini saja, Wolfgang. Besok-besok tidak lagi."
Pria berkacamata yang usianya sekitar tiga puluhan awal memandang adiknya dengan wajah setengah kesal. "Ada apa lagi, Betrand? Aku tidak memiliki banyak waktu untuk mengurusi hal-hal remeh seperti pergi ke bar, berkencan dan sebagainya.", ia menjawab sambil merapikan rambut pirangnya.
Ia bermain-main dengan jarinya, membuat gerakan sebagai tanda ia tidak ingin berbicara macam-macam pada pria dewasa yang bernama Betrand.
Contoh 2 (diambil dari fic karya pengarang yang sama dengan di atas, dengan judul DVSE):
Di luar dugaan Jochen tidak membalasnya, anak itu malah tertawa.
"HAHAHAHAHAHAHA!" Jochen tertawa terbahak-bahak. "Kau ini lucu juga, Eusebio! Ekspresi marahmu benar-benar membuatku tertawa!"
5.) Catchphrase/Ucapan Khas
Poker face - inilah wajah Kai sekarang. Tidak tahu ingin berkata apa antara marah atau heran melihat ekspresi Jochen yang awalnya tidak suka kepadanya.
"Mengapa tertawa, Fassbender?" gerutu Kai. "Ada sesuatu di wajahku?"
Kai mengerinyit, Jochen masih tertawa beberapa saat lamanya. Setelah itu, sikapnya pada Kai sedikit lebih baik dari sebelumnya.
Kalian tahu, kan kalau di anime Sailormoon yang sempat tayang tahun 90an itu ada seruan "dengan kekuatan bulan aku akan menghukummu" setiap si jagoannya ketemu musuh? Atau Douglas McArthur dengan ucapannya yang terkenal yakni: "I shall come back." Terus kayak karakter Leonidas (ada gambarnya di atas) di film 300, yang terkenal dengan teriakan "THIS IS SPARTA!"-nya. Kira-kira itulah yang Anya maksud dengan catchphrase. Catchphrase itu pengertian aslinya (kalau kata mbah Wiki yang nggak bisa dipercaya) adalah suatu kata/kalimat yang diulang-ulang dan saking seringnya diulang-ulang sampai seakan-akan jadi ciri khas terdiri buat si penutur kata-kata itu.
Nah, ada satu OC milik anak fakultas sebelah dengan nom de plume seerstella, yang catchphrase-nya ngena banget dan kebetulan mau Anya roketin di sini. Hahaha...
Contoh:
"Yakin kita mau lewat sini?" tanya Annikki pada Ruth. "Perasaanku udah mulai nggak enak. Tempat ini katanya berhantu."Segitu aja yang Anya bahas kali, ini. Mohon maaf kalau ada kesalahan kata, dan kalau ada tambahan akan Anya pertimbangkan.Sampai ketemu di lain waktu! Bye!
Ruth meletakkan tangannya di belakang kepala dan berkata dengan santai, "Tenang saja, kalau aku takut hantu...namaku bukan Ruth Wallis Armstrong!"